NUSANTARA TERKINI — Pelayanan kesehatan di wilayah pesisir Berau tengah menghadapi tantangan serius. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Talisayan mengonfirmasi adanya kekosongan posisi dokter spesialis penyakit dalam sejak akhir Maret 2026.
Situasi ini terjadi setelah dokter spesialis yang telah mengabdi selama lebih dari satu tahun di rumah sakit tersebut resmi mengundurkan diri.
Keputusan tersebut murni didasari alasan kemanusiaan, yakni untuk mendampingi orang tua di kampung halaman.
Direktur RSUD Talisayan, Andik, menjelaskan bahwa manajemen kini tengah berupaya keras mencari pengganti agar akses medis masyarakat pesisir tidak terganggu dalam jangka panjang.
Perburuan Hingga ke Pulau Jawa
Menyadari sulitnya mencari tenaga ahli untuk bertugas di daerah, manajemen RSUD Talisayan mulai menyebarkan informasi lowongan ke berbagai jaringan profesional medis di luar Kalimantan.
“Kami sudah share ke teman-teman sejawat, termasuk ke Jogja dan Bandung, untuk mencari pengganti. Namun memang mencari dokter spesialis tidak semudah tenaga lainnya,” ungkapnya belum lama ini.
Selain rekrutmen mandiri, pihak rumah sakit juga telah berkoordinasi intensif dengan Dinas Kesehatan Berau. Harapannya, kekosongan ini bisa segera terisi melalui skema penugasan khusus dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam waktu dekat.
Tantangan Jarak Rujukan
Selama masa transisi ini, RSUD Talisayan memastikan pelayanan rawat jalan tetap berjalan maksimal di bawah penanganan dokter umum.
Namun, untuk kasus yang membutuhkan diagnosa spesifik dari ahli penyakit dalam, pihak rumah sakit terpaksa menerapkan prosedur rujukan.
Pasien yang membutuhkan tindakan spesialis akan dirujuk ke RSUD Abdul Rivai di Tanjung Redeb. Hal ini menjadi perhatian khusus mengingat jarak tempuh dari wilayah pesisir menuju ibu kota kabupaten yang cukup menyita waktu bagi pasien dalam kondisi tertentu.
“Kalau masih bisa ditangani dokter umum, tetap kami layani. Tapi jika membutuhkan spesialis, akan kami rujuk,” pungkasnya.(*/Andrikni/NT)





