Ironi Pengangguran Berau: 500 Lowongan Sawit “Dicuekin”, Padahal Masuk Tambang Makin Susah

diterbitkan: Kamis, 2 April 2026 09:33 WITA
Pekerja perkebunan kelpa sawit. (Foto: istimewa)

NUSANTARA TERKINI – Angka pengangguran di Kabupaten Berau masih menjadi rapor merah yang sulit dituntaskan.

Namun, sebuah fakta ironis terungkap dari catatan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau, sektor perkebunan kelapa sawit sebenarnya masih membuka lebar pintu lowongan kerja, namun justru sepi peminat dari putra daerah sendiri.

Kecenderungan tenaga kerja (TK) lokal yang hanya terpaku pada sektor pertambangan dinilai menjadi penghambat utama penyerapan tenaga kerja di sektor lain.

Padahal, persaingan masuk ke perusahaan tambang kian kompetitif dan menuntut kualifikasi tinggi yang sering kali memicu konflik rekrutmen.

Sawit Dikuasai Pekerja Luar Daerah

Baca juga  Klarifikasi Pemprov Kaltim Soal Viral Mobil Dinas Range Rover Gubernur Berkeliaran di Jalanan Samarinda dan IKN

Akibat kurangnya minat warga lokal, industri kelapa sawit di Bumi Batiwakkal kini lebih banyak menghidupi tenaga kerja dari luar daerah, seperti Nusa Tenggara dan Sulawesi.

Peluang ekonomi yang ada di depan mata seolah terlewat begitu saja oleh pemuda setempat.

Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, menyayangkan sikap pilih-pilih pekerjaan ini. Ia mengingatkan bahwa keberadaan industri sawit seharusnya bisa menjadi solusi cepat untuk menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Berau yang masih tergolong tinggi.

“Saat sektor sawit butuh tenaga kerja, malah sedikit orang lokal kita yang mau melamar. Catatan Disnaker tahun lalu, ada sekitar 500 tenaga kerja yang dibutuhkan di sawit, tapi kurang diminati oleh warga lokal kita,” ungkap Subroto, Kamis (2/4/2026).

Baca juga  Siapkan Payung! BMKG Berau Prediksi Lebaran Tahun Ini Bakal Diguyur Hujan

Tambang Bukan Satu-satunya Solusi

Subroto menambahkan, obsesi berlebihan pada sektor pertambangan sering kali berujung pada kekecewaan. Proses rekrutmen di tambang yang ketat dan spesifik sering kali tidak mampu mengakomodasi seluruh pencari kerja lokal, sehingga memicu gesekan sosial.

“Kita dengar banyak problem perekrutan justru dari sektor pertambangan karena kualifikasi yang tidak sesuai. Sementara di sisi lain, lowongan sawit terbuka lebar tapi diabaikan,” lanjutnya.

Baca juga  Nilai Ekonomi Lebih Menjanjikan, Pemkab Berau Tunda Roadmap Jagung Demi Fokus Kakao dan Kelapa

Ia meminta putra-puteri daerah untuk lebih realistis dan tidak terlalu memilah-milih jenis pekerjaan selama kesempatan itu tersedia dan mampu memberikan penghidupan yang layak.

Manfaatkan Peluang yang Ada

DPRD Berau mendorong Disnakertrans untuk terus mensosialisasikan potensi karier di sektor perkebunan agar tidak lagi dianggap sebagai sektor “kelas dua”.

Kemandirian ekonomi daerah dinilai mustahil tercapai jika warga lokal hanya bergantung pada satu sektor ekstraktif saja.

“Jangan pilah-pilih kalau ada lowongan. Di saat mencari kerja itu sulit, setiap peluang yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin demi kesejahteraan keluarga dan daerah,” pungkas Subroto.(*/Rusdiono/NT)

Bagikan:
Berita Terkait