NUSANTARA TERKINI – Persoalan krisis air bersih yang terus menghantui warga Balikpapan akhirnya dibedah dalam diskusi mendalam oleh kalangan legislatif.
Anggota DPRD Balikpapan sekaligus Ketua IKA Unhas Balikpapan, Wahyullah Bandung, mengungkapkan bahwa kemacetan distribusi air bukan sekadar masalah teknis sederhana, melainkan dampak dari dua masalah sistemik yang saling berkaitan.
Berdasarkan data yang dihimpun dari koordinasi bersama PDAM, Wahyullah menyebutkan bahwa kendala utama terletak pada ketersediaan sumber air baku yang tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk, serta kondisi infrastruktur jaringan yang sudah “uzur”.
“Dari penjelasan PDAM, ada dua masalah utama. Sumber air baku yang belum mencukupi dan kebocoran jaringan pipa yang sudah berumur,” ujar Wahyullah, Sabtu (19/4/2026).
Pipa Berumur Picu Kebocoran Masif
Masalah pertama yang menjadi sorotan adalah jaringan pipa distribusi. Sebagian besar pipa yang tertanam di bawah aspal Kota Minyak merupakan instalasi lama yang usianya sudah puluhan tahun.
Kondisi ini memicu tingkat kebocoran yang sangat tinggi sebelum air sampai ke meteran rumah warga.
Meski perbaikan jaringan terus dilakukan secara parsial, upaya tersebut dinilai tidak akan berdampak besar jika tidak dibarengi dengan peremajaan total.
Akibat pipa tua ini, debit air yang sudah terbatas dari hulu justru terbuang sia-sia di tengah jalur distribusi.
Ketergantungan Pada “Langit”
Masalah kedua adalah faktor alamiah. Hingga saat ini, Balikpapan masih menjadi satu-satunya kota besar di Kalimantan Timur yang tidak memiliki sungai besar sebagai sumber air alami.
Selama puluhan tahun, warga hanya bergantung pada tampungan air hujan melalui Waduk Manggar.
“Balikpapan tidak punya sungai besar. Ini yang membuat kita sangat bergantung pada air hujan,” tambahnya.
Kondisi ini kian mengkhawatirkan seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi dan dampak pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang memicu lonjakan penduduk.
Solusi Jangka Panjang
Guna memutus rantai krisis ini, Wahyullah menegaskan bahwa Balikpapan harus berani beralih ke solusi multisumber. Beberapa opsi yang mendesak untuk direalisasikan antara lain:
- Suplai Air dari Sungai Mahakam: Mengambil air dari wilayah tetangga untuk menambah pasokan tetap.
- Desalinasi Air Laut: Mengolah air laut menjadi air tawar, belajar dari keberhasilan Singapura.
- Keterlibatan Swasta: Mendorong perusahaan besar di Balikpapan yang sudah memiliki alat pengolah air mandiri untuk berkontribusi melalui CSR.
“Ini bagian dari solusi jangka panjang. Kalau tidak dipersiapkan dari sekarang, ke depan akan menjadi masalah yang jauh lebih besar,” pungkasnya.(Rusdiono/NT)






