NUSANTARA TERKINI – Turnamen internasional FIFA Series 2026 edisi Indonesia resmi berakhir pada Senin (30/3/26) malam.
Timnas Bulgaria keluar sebagai juara setelah menumbangkan tuan rumah Indonesia dengan skor tipis 1-0 dalam laga final yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.
Pertandingan puncak tersebut menyuguhkan duel sengit antar-konfederasi. Meski skuad Garuda tampil dominan di beberapa lini, satu gol dari tim asal UEFA tersebut sudah cukup untuk memastikan trofi juara dibawa pulang ke Sofia.
Perjalanan Skuad Garuda di Era John Herdman
Timnas Indonesia yang kini ditangani pelatih asal Inggris, John Herdman, harus puas menempati posisi runner-up. Perjalanan Indonesia di turnamen ini sebenarnya dimulai dengan sangat meyakinkan.
Pada pertandingan perdana, Jumat (27/3/26), Rizky Ridho dan kawan-kawan sukses melumat wakil Concacaf, Saint Kitts and Nevis, dengan skor telak 4-0.
Namun, efektivitas permainan Bulgaria di partai final menjadi ujian berat yang belum mampu dilewati oleh pasukan Merah Putih.
Dominasi Bulgaria dan Rekor Gol Tertinggi
Bulgaria tampil sebagai tim paling produktif sepanjang turnamen. Sebelum mengalahkan Indonesia, mereka lebih dulu mencatatkan kemenangan fantastis 10-2 saat melawan wakil OFC, Kepulauan Solomon.
Skor tersebut mencatatkan sejarah baru sebagai rekor gol tertinggi yang pernah diraih oleh Timnas Bulgaria dalam satu pertandingan internasional. Dengan dua kemenangan beruntun, Bulgaria mengukuhkan diri sebagai yang terbaik di antara empat negara peserta.
Persaingan Peringkat Ketiga dan Juru Kunci
Sementara itu, perebutan tempat ketiga berhasil dimenangi oleh Saint Kitts and Nevis. Tim asal Kepulauan Karibia ini menundukkan Kepulauan Solomon dengan skor 4-2 dalam laga yang digelar pada Senin petang sebelum partai final.
Kemenangan ini menempatkan Saint Kitts and Nevis di posisi ketiga, sedangkan Kepulauan Solomon harus rela menduduki posisi juru kunci tanpa meraih satu pun kemenangan selama berlaga di Jakarta.
FIFA Series 2026 menjadi ajang penting bagi Indonesia untuk mengukur kekuatan melawan tim dari berbagai benua.
Meskipun gagal menjadi juara di rumah sendiri, posisi runner-up menjadi modal evaluasi berharga bagi John Herdman dalam membangun kerangka timnas masa depan.(*)





