NUSANTARA TERKINI — Struktur ekonomi Kabupaten Berau mulai menunjukkan sinyal perubahan yang menarik.
Meski sektor pertambangan dan penggalian sebagai penopang utama sedang “lemas” atau mengalami kontraksi, sebanyak 16 lapangan usaha lainnya justru kompak tumbuh positif.
Berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2025, sektor tambang yang selama ini mendominasi hingga 48,11 persen ekonomi daerah, tercatat mengalami penurunan sebesar 0,45 persen.
Beruntungnya, kelesuan di sektor “emas hitam” ini berhasil diimbangi oleh geliat sektor-sektor lainnya.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengungkapkan bahwa fenomena ini menjadi momentum penting bagi daerah untuk segera melakukan diversifikasi ekonomi agar tidak terus terjebak dalam ketergantungan sumberdaya alam yang terbatas.
Diversifikasi Jadi Harga Mati
Kondisi ekonomi Berau saat ini dinilai cukup rentan, jika hanya mengandalkan satu sektor besar yang fluktuatif. Penurunan tipis di sektor tambang saja sudah mampu menahan laju pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
“Sebanyak 16 dari 17 lapangan usaha di Kabupaten Berau mengalami pertumbuhan positif, sedangkan lapangan usaha pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi,” jelas Gamalis, Senin (6/4/26).
Pertumbuhan di 16 sektor non-tambang ini, termasuk di dalamnya sektor pertanian, pariwisata, hingga perdagangan, menjadi modal kuat bagi Bumi Batiwakkal untuk membangun kemandirian ekonomi yang lebih stabil di masa depan.
Menjaga Tren Positif Sektor Riil
Pemerintah Kabupaten Berau berkomitmen untuk terus menyiram “semangat” pada sektor-sektor yang sedang tumbuh ini.
Penguatan pada sektor riil diharapkan dapat menjadi bantalan ekonomi ketika harga komoditas tambang di pasar global sedang tidak menentu.
Langkah strategis yang diambil ke depan adalah memastikan kebijakan daerah mendukung kemudahan usaha di sektor non-tambang.
“Dengan begitu, kontribusi sektor-sektor ini terhadap PDRB bisa terus meningkat dan perlahan mengimbangi dominasi pertambangan,”ucapnya.
Gamalis menegaskan, fokus diversifikasi ini bukan berarti meninggalkan industri pertambangan, melainkan memperkuat fondasi ekonomi lain. Tujuanya agar Berau memiliki banyak “pilar” penyangga saat salah satu sektor mengalami guncangan.(*/Andrikni/NT)





