NUSANTARA TERKINI,- Melakukan perjalanan jauh melintasi kabupaten kota dan singgah di Berau, kini tidak perlu lagi dihantui rasa cemas jika tiba-tiba kehabisan bekal finansial.
Sebuah oase kepedulian di tengah kota siap merangkul para pelancong atau musafir yang kebingungan mencari tempat bernaung. Lokasinya ada di Masjid At Taqwa.
Masjid yang berlokasi strategis di Jalan AKB Sanipah 1, Kelurahan Bugis ini menelurkan program sosial yang sangat menyentuh hati.
Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) berinisiatif menyulap rumah ibadah ini menjadi tempat transit gratis, lengkap dengan fasilitas makan dan alas tidur bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Ketua DKM Masjid At Taqwa, Shamsul Ma’ruf menuturkan, letak masjid yang berada di jantung kota kerap menjadi titik singgah ideal. Terutama bagi wisatawan atau warga dari luar daerah yang hendak menuju wilayah pesisir Berau. Namun terhambat jadwal keberangkatan atau terkendala biaya penginapan.
“Fasilitas penginapan gratis dan makan gratis bagi jamaah yang memang dianggap membutuhkan dan menjadi keinginan untuk bisa memberikan fasilitas kepada jamaah yang berada dari daerah luar,” ungkap Shamsul Rabu (11/3/2026).

Dibuka Pasca Lebaran dengan Syarat Ketat
Inovasi sosial yang sejalan dengan semangat program Masjid Ramah Pemudik dari Kementerian Agama ini, rencananya baru akan digulirkan secara maksimal seusai perayaan Idulfitri atau memasuki bulan Syawal.
Saat ini, seluruh jajaran pengurus masih memusatkan energi untuk melayani berbagai kegiatan peribadatan jamaah lokal sepanjang Ramadan.
Meski mengusung semangat pelayanan gratis, pihak masjid tetap diberlakukan protokol keamanan yang terukur. Setiap musafir yang ingin menumpang menginap diwajibkan melapor kepada petugas jaga.
“Nanti data identitas musafir ini akan kami diteruskan kepada ketua RT, tujuanya demi menjaga keamanan dan kenyamanan lingkungan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,”bebernya.
Demi memastikan setiap tamu dimuliakan dengan layak, Shamsul menyebut pengurus masjid akan membatasi kuota harian. Kapasitas penginapan sementara ini maksimal hanya menampung sepuluh orang per hari, agar pasokan makanan dan fasilitas yang ada tidak keteteran.
“Kita batasi sampai sepuluh, tapi saya rasa yang nginap itu paling sehari semalam sudah keluar lagi. Kalau ada puncak puncaknya paling biasanya di hari Ahad,” pungkasnya.





