Pertumbuhan Ekonomi Anjlok Akibat PHK, Wabup Gamalis: Saatnya UMKM Naik Kelas

diterbitkan: Rabu, 1 April 2026 02:03 WITA
UMKM Berau
Salahsatu produk UMKM Berau yang kini sudah masuk ek swalayan. (Foto: Andrikni/NT)

NUSANTARA TERKINI – Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Berau yang anjlok ke angka 2,48 persen pada 2025 menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.

Bersadarkan data dari Pemkab Berau, laju pertumbuhan ekonomi Berau berada di peringkat dua terbawah di Kaltim usai turun dari 7,8 persen pada 2024 menjadi 2,48 persen di tahun 2025.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan sudah saatnya struktur ekonomi daerah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada industri besar dan ekstraktif.

Gamalis mengungkapkan, sektor industri yang selama ini menjadi penopang utama justru tengah lesu akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di penghujung 2025.

Baca juga  Menjelajahi "Permata Hitam" Kalimantan: 5 Destinasi Wisata Unggulan di Kutai Timur

“Ratusan pekerja yang kehilangan mata pencaharian berdampak langsung pada merosotnya daya beli masyarakat di Bumi Batiwakkal,”ujarnya. Selasa (31/3/26)

UMKM Sebagai Bantalan Ekonomi Rakyat

Sebagai solusi nyata, Pemkab Berau kini mengalihkan fokus besar-besaran untuk memperkuat sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sektor ini dinilai paling tangguh dan bersentuhan langsung dengan lapisan masyarakat terbawah.

“Paling tidak kita kembali meningkat dengan berpacu pada peningkatan UMKM. UMKM harus kita tingkatkan hari ini, karena bagaimanapun itu langsung bersentuhan dengan masyarakat paling bawah,” tegas Gamalis.

Baca juga  Pelaku UMKM Berau Masih Memerlukan Dukungan Perbankan dan Pihak Swasta
Wabup Berau Gamalis
Wakil Bupati Berau, Gamalis.

Menurutnya, penguatan UMKM bukan sekadar opsi, melainkan keharusan untuk memutar kembali roda ekonomi yang sempat tersumbat akibat efisiensi anggaran pemerintah dan lesunya sektor kontraktor.

Transformasi ke Sektor Non-Ekstraktif

Selain UMKM, Gamalis mendorong percepatan transformasi ekonomi ke sektor non-ekstraktif. Sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata akan dipacu untuk menjadi pilar baru yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Langkah ini diambil agar ekonomi Berau tidak lagi “didikte” oleh fluktuasi harga komoditas global seperti batu bara dan sawit yang selama ini sangat memengaruhi postur APBD dan pendapatan daerah.

Baca juga  Diskoperindag Bakal Seragamkan Desain Gerobak PKL Tepian Teratai

“Pertanian, perikanan, pariwisata, termasuk perkebunan, itu yang akan kita dorong. Karena bagaimanapun sektor-sektor ini adalah sumber pendapatan langsung masyarakat di perkampungan,” imbuhnya.

Optimisme Pemulihan 2026

Meski Berau mencatatkan pertumbuhan ekonomi terendah kedua di Kalimantan Timur pada 2025, Gamalis optimistis dengan strategi “banting setir” ke ekonomi kerakyatan, angka pertumbuhan akan kembali merangkak naik pada 2026.

Pemkab Berau berkomitmen untuk memberikan pendampingan lebih intensif bagi pelaku usaha lokal agar bisa naik kelas, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru secara mandiri tanpa harus bergantung pada sektor pertambangan.(*/Andrikni/NT)

Bagikan:
Berita Terkait