DPTHP Berau Soroti Kurangnya Minat Anak Muda Jadi Petani, Padahal Potensi Lahan 6000 Hektare

diterbitkan: Jumat, 17 April 2026 07:30 WITA
Sawah Berau
Hamparan tanaman padi di Kampung Gurimbang. (Foto: Zuhri/NT)

NUSANTARA TERKINI – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DPTHP) Berau menyoroti rendahnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Padahal daerah ini memiliki potensi lahan sangat besar yang mencapai 6.000 hektare pada Jumat (17/04/26).

Ketersediaan sumber daya manusia yang terus berkurang menjadi kendala utama dalam menggarap potensi lahan produktif tersebut.

Kepala DPTHP Berau Lita Handini mengungkapkan bahwa jumlah petani saat ini semakin menyusut karena faktor usia yang membatasi kemampuan fisik mereka.

Baca juga  Pelaku IKM Maratua Dilatih Olah Limbah Kelapa Jadi Produk Bernilai Ekonomis

Stigma dan Mentalitas Instan

Regenerasi petani menjadi tantangan berat bagi pemerintah daerah karena anak muda cenderung menyukai pekerjaan yang dianggap instan dan mudah.

Stigma bahwa bertani adalah kegiatan sulit dan melelahkan masih melekat kuat di benak generasi milenial saat ini.

Lita menjelaskan bahwa kelompok tani milenial yang tergabung dalam brigadir pangan seringkali memiliki semangat yang tidak stabil. Minat mereka dalam mengelola lahan pertanian sering berubah-ubah sehingga sulit untuk diandalkan dalam jangka panjang.

Baca juga  Berkas Predator Seksual Sesama Jenis di Berau Diterima Kejaksaan, Kasus AS Segera Disidangkan

“Di dalam brigadir pangan juga minatnya itu timbul tenggelam, kadang semangat kadang down,” ujar Lita.

Strategi Mekanisasi Modern

Pemerintah terus berupaya memberikan pemahaman bahwa sektor pertanian mampu memberikan penghasilan tinggi jika dikelola secara profesional.

Pendapatan dari bertani dinilai sangat kompetitif dan mampu bersaing dengan bidang usaha lainnya di masa depan.

Baca juga  Jangan Cuma Kejar Untung, Sakirman Soroti Kelayakan Armada Mudik Lebaran

Guna menghapus kesan tradisional dan berat DPTHP gencar mensosialisasikan penggunaan alat-alat pertanian modern kepada anak muda.

Sistem mekanisasi kini telah diterapkan mulai dari proses pemupukan hingga masa panen menggunakan mesin canggih yang lebih praktis.

“Ini upaya kami untuk terus mensosialisasikan, mengajak dan merangsang mereka dengan menggunakan alat-alat mekanisasi,” jelas Lita. (*/Ika/NT)

Bagikan:
Berita Terkait