NUSANTARA TERKINI — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau merilis data terbaru ketersediaan akomodasi di tiga kecamatan pesisir.
Meskipun jumlah penginapan terlihat cukup banyak, kapasitas lapangan sering kewalahan menghadapi serbuan pengunjung saat libur panjang.
Pemetaan data ini menjadi dasar evaluasi agar insiden wisatawan terlantar tidak terulang kembali di masa depan.
Berdasarkan data statistik, Kecamatan Bidukbiduk saat ini memiliki 78 unit akomodasi dengan total 480 kamar tersedia.
Sementara itu, Kecamatan Maratua mengoleksi 95 unit penginapan dengan total kapasitas mencapai 458 kamar.
Kecamatan Pulau Derawan memimpin kapasitas tidur dengan total 640 kamar yang tersebar di berbagai jenis penginapan.
Lonjakan wisatawan membuktikan pertumbuhan fasilitas belum sebanding dengan antusiasme pengunjung yang datang secara bersamaan.
Adyatama Kepariwisataan Disbudpar Berau, Ing Ta Wijaya, mengakui jumlah akomodasi saat ini masih terbilang kurang.
Namun, ia menekankan, menambah kapasitas penginapan bukan perkara mudah yang bisa dilakukan secara instan.
Mengubah rumah warga menjadi penginapan dadakan dinilai bukan solusi jangka panjang yang ideal bagi daerah.
Setiap unit akomodasi wajib memenuhi standar pelayanan serta kenyamanan tertentu sebelum mulai dipasarkan kepada publik.
Tanpa fasilitas dasar yang memadai, citra pariwisata daerah justru dikhawatirkan akan merosot di mata para pengunjung.
“Karena untuk membuka sebuah akomodasi tentunya harus diperlukan beberapa fasilitas dasar dan amenitasnya,” kata Wijaya.
Disbudpar memandang kesenjangan antara pasokan kamar dan permintaan wisatawan sebagai peluang bisnis yang sangat menjanjikan.
Para investor diharapkan melirik potensi besar wilayah pesisir Berau untuk membangun penginapan baru yang representatif.
Kehadiran investasi baru akan mendorong persaingan sehat dalam meningkatkan standar fasilitas pariwisata di Bumi Batiwakkal.
Selain fisik bangunan, pemerintah daerah juga berkomitmen membenahi sisi internal melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Penambahan fasilitas harus diiringi kemampuan pengelolaan profesional agar wisatawan merasa betah dan ingin kembali berkunjung.
Pelatihan khusus bagi pengelola penginapan menjadi agenda prioritas dalam waktu dekat ini.
“Bagi dinas pun ini menjadi catatan kami untuk dapat segera melakukan pelatihan-pelatihan terkait, semisal pelatihan hospitality,” pungkasnya. (Adv)





