NUSANTARA TERKINI – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG kembali mengeluarkan peringatan keras terkait aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Gunung api aktif di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta ini menunjukkan peningkatan intensitas guguran lava pada Jumat pagi.
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di kawasan rawan bencana yang telah ditetapkan. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas yang mengancam sektor selatan hingga barat daya.
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menegaskan status aktivitas Merapi masih tertahan pada Level III atau Siaga. Ancaman nyata berada di alur Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog dan Krasak hingga 7 kilometer.
Selain itu potensi bahaya juga mengintai sektor tenggara yang meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Suplai magma yang masih berlangsung dapat memicu awan panas guguran sewaktu-waktu.
Aktivitas Kegempaan Meningkat
Data pemantauan pada Jumat (20/2/2026) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB merekam aktivitas seismik yang cukup intens. Tercatat ada 60 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 32 milimeter.
Durasi gempa tersebut bervariasi mulai dari 55 hingga 193 detik. Selain gempa guguran alat seismograf juga mendeteksi 10 kali gempa fase banyak dan satu kali gempa tektonik jauh.
Kondisi meteorologi di sekitar puncak terpantau berawan dengan suhu udara sejuk antara 18 hingga 19 derajat celcius. Angin bertiup lemah ke arah timur dan gunung tertutup kabut.
Ancaman di Kali Sat dan Putih
Agus menyoroti banyaknya material vulkanik yang meluncur ke arah sungai-sungai yang berhulu di Merapi. Teramati sebanyak 11 kali guguran lava mengarah ke Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1.600 meter.
Sementara itu intensitas yang lebih tinggi justru terjadi di aliran kali lainnya yang mencapai jarak luncur lebih jauh.
“Selain itu 19 kali guguran lava mengarah ke Kali Sat atau Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter,” ujar Agus.





