Kapasitas 5 Ton Per Hari, Rumah Produksi Pakan di Kukar Jadi Pilot Project Hilirisasi Kaltim

diterbitkan: Kamis, 2 April 2026 07:58 WITA
pakan ternak kukar
Gudang penyimpanan pakan ternak. (Ilustrasi)

NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) membuktikan komitmennya dalam memajukan hilirisasi sektor non-tambang.

Salah satu keberhasilan yang menonjol adalah operasional Rumah Produksi Bersama (RPB) di Desa Loleng, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara, yang kini menjadi motor penggerak pakan ternak mandiri.

Fasilitas pengolahan ini memiliki kapasitas produksi hingga 5 ton per hari, yang difokuskan untuk mengolah jagung lokal serta potensi limbah sawit menjadi pakan berkualitas.

Langkah ini menjadi strategi krusial untuk memutus ketergantungan peternak Kaltim terhadap pasokan pakan dari luar daerah yang selama ini sering mengalami fluktuasi harga.

Solusi Nyata Ketahanan Pangan IKN

Baca juga  Opick Ramaikan MTQ ke 30 Nasional

Sekretaris Daerah Kaltim, Sri Wahyuni, menegaskan bahwa keberhasilan di sektor pakan ternak ini merupakan fondasi penting bagi strategi “Jospol” pemerintah daerah.

Dengan adanya pakan mandiri, stabilitas harga telur dan daging di pasar lokal dapat lebih terjaga.

“Hilirisasi pakan ternak ini bertujuan mengatasi kelangkaan pakan dan menekan biaya produksi peternak. Ini sangat penting untuk meningkatkan populasi ternak kita, terutama dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN),” jelas Sri Wahyuni.

Melalui kemandirian pakan, peternak di Kukar dan sekitarnya kini memiliki daya saing yang lebih kuat untuk memenuhi permintaan protein hewani yang diprediksi akan melonjak seiring bertambahnya populasi di IKN.

Baca juga  Mau Kunjungi IKN? Ini Caranya

Pijakan Menuju Industri Minyak 2028

Keberhasilan RPB Desa Loleng ini tidak hanya berhenti di sektor peternakan. Pemprov Kaltim menjadikan proyek ini sebagai pilot project atau percontohan untuk memperluas jangkauan hilirisasi ke sektor lain.

Target berikutnya telah ditetapkan. Jika tahun 2026 fokus utama adalah pakan ternak, maka pada tahun 2028, arah kebijakan akan bergeser ke industri pengolahan minyak lokal.

Pemerintah berencana membangun infrastruktur serupa yang lebih terintegrasi untuk memberikan nilai tambah pada komoditas unggulan Kaltim lainnya.

Skema IPRO untuk Menarik Investor

Baca juga  Pantau Hilal di Five Premier Hotel Samarinda, Kemenag Menunggu Keputusan Pusat

Guna mempercepat pengembangan kawasan industri serupa di wilayah lain, Pemprov Kaltim kini menyiapkan proyek-proyek yang siap ditawarkan kepada investor melalui skema Investment Project Ready to Offer (IPRO).

“Kita perkuat badan pengelola kawasan industrinya supaya investor yakin dan prosesnya lebih cepat. Jika ada kendala aset, kita dorong skema kerja sama atau joint venture dulu agar operasional tetap berjalan,” tambah Sri Wahyuni.

Dengan sinergi antara kesiapan bahan baku lokal, teknologi pengolahan di desa, dan kepastian hukum bagi investor, Kaltim optimis struktur ekonominya akan semakin tangguh dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada sektor ekstraktif.(*/Rusdiyono/NT)

Bagikan:
Berita Terkait