TANJUNG REDEB – Sejumlah program masuk hadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Berau periode 2021-2026.
Persoalan air bersih menjadi salah satunya, yang mana dalam rencana lima tahunan itu ditargetkan dapat terpenuhi 25 ribu sambungan rumah (SR).
Olah karena itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Berau harus bergerak cepat untuk merealisasikan target tersebut paling lambat tahun 2026.
Kepala Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Permukiman DPUPR Berau, Decty Toga Maduli mengungkapkan, saat ini proses pemasangan masih akan dilanjutkan secara bertahap.
Namun, sebelum masuk ke tahap implementasi, DPUPR akan menyinkronkan data dengan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Batiwakkal terlebih dahulu.
“Target kami memang 25 ribu SR sampai 2026. Sebagian sudah terealisasi, mungkin tinggal setengahnya lagi. Tahun depan, kami targetkan bisa menambah sekitar 6 ribu SR lagi,” ujar Decty, Rabu (11/6/2025).
Untuk menuntaskan target itu, pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan Perumda Air Minum Batiwakkal. Hal itu untuk memastikan penetapan wilayah sasaran tidak tumpang tindih dan tepat guna.
Apalagi, program dari DPUPR Berau ini sepenuhnya gratis karena didanai melalui anggaran pemerintah.
“Kami sinkronkan dulu datanya karena ini kerja sama. Jangan sampai lokasinya dobel atau malah ada yang terlewat,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu area yang dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan jaringan SR adalah Kecamatan Tanjung Redeb.
Decty menyebutkan, banyak warga di wilayah Tanjung Redeb yang saat ini masih kesulitan mengakses air bersih dan menunggu antrean sambungan.
“Menurut saya, di wilayah ini masih banyak warga yang mengantre sambungan air bersih, sehingga menjadi prioritas dalam perencanaan,” katanya.
Berbeda dengan Perumda Air Minum Batiwakkal yang membebankan biaya sambungan dan biaya anselit (biaya material), program SR dari DPUPR bersifat hibah dan tidak memungut biaya apapun dari masyarakat.
Meski demikian, Decty menekankan tidak semua wilayah bisa langsung disambungkan. Kesiapan jaringan pipa, ketersediaan sumber air dan aspek teknis lainnya tetap menjadi pertimbangan utama dalam penentuan lokasi.
“Program ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap air bersih yang layak, khususnya di wilayah-wilayah yang selama ini belum terlayani maksimal,” pungkasnya. (**)






