NUSANTARA TERKINI – Jejak kolonial di Kabupaten Berau kini tidak lagi sekadar cerita lawas yang berdebu. Pemerintah daerah setempat tengah serius memoles wajah Kota Tua Teluk Bayur menjadi destinasi wisata sejarah yang hidup.
Kawasan ini memiliki nilai strategis yang tinggi karena lokasinya sangat dekat dengan pintu gerbang udara Bumi Batiwakkal. Wisatawan hanya butuh waktu lima menit dari Bandara Kalimarau untuk sampai ke lokasi ini.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau menargetkan penataan fisik kawasan tersebut rampung secara bertahap. Fokus utamanya menyasar pembenahan museum, penanda kawasan berupa gapura, hingga gedung bioskop lama.
Pejabat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau Andi Nusyamsi menyebut pembenahan satu ruangan museum dan fasilitas toilet di area bawah telah dilakukan. Sementara ruang lainnya masih dalam tahap pematangan konsep.
“Target kami pertengahan Februari kawasan ini sudah lebih rapi. Museum di area bawah sudah dibenahi satu ruangan beserta toilet,” kata Andi, Senin (23/2/26).
Menjaga Keaslian Bioskop Tua
Salah satu daya tarik utama revitalisasi ini adalah gedung bioskop lama yang berstatus cagar budaya. Pemerintah sangat selektif dalam memugar bangunan tersebut agar nyawanya tidak hilang.
Elemen asli bangunan seperti kursi dari kayu ulin dan rangka besi lawas tetap dipertahankan. Bagian yang dianggap berisiko didokumentasikan dan dikonsultasikan terlebih dahulu sebelum disentuh.
“Kami sangat berhati-hati. Prinsipnya keamanan dan kenyamanan tanpa menghilangkan nilai sejarah,” ujarnya.
Nantinya fungsi bioskop ini akan dikembalikan sebagai ruang pertunjukan film dan pentas seni. Masyarakat juga diperbolehkan memanfaatkannya untuk kegiatan tertentu selama tidak mengubah nuansa aslinya.
Selain bioskop, ikon baru yang menonjol adalah gapura dengan desain arsitektur klasik bergaya Belanda. Warna putih mendominasi bangunan ini untuk memperkuat karakter peninggalan era kolonial di bekas kawasan tambang tersebut.
“Karena brandingnya Kota Tua Teluk Bayur, bekas tambang batu bara zaman Belanda, maka desain gapura harus mengarah ke arsitektur klasik Belanda,” jelasnya.
Beri Ruang Pejalan Kaki
Pengembangan kawasan ini mengusung konsep tur jalan kaki yang menghubungkan berbagai titik bersejarah. Jalur pedestrian akan memandu pengunjung dari gapura, menuju bioskop, dan berakhir di museum.
Area ini nantinya akan bermuara di zona berkumpul yang dilengkapi kafe. Pengisian konten museum sendiri rencananya akan melibatkan perusahaan batu bara lewat program tanggung jawab sosial perusahaan.
Andi menambahkan bahwa kedekatan lokasi dengan bandara menjadi nilai jual utama bagi pelancong yang singgah sebentar.
“Dengan jarak yang sangat dekat dari Bandara Kalimarau, kawasan ini cocok direkomendasikan sebagai wisata sejarah singkat bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas,” pungkas Andi. (Adv)





