NUSANTARA TERKINI — Sektor pariwisata yang kini menjadi tumpuan unggulan Kabupaten Berau mendapat perhatian serius dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Tidak main-main, tim pemeriksa tidak hanya memeriksa urusan administrasi dan program di atas kertas, tetapi bahkan turun langsung untuk melihat kondisi riil destinasi wisata unggulan di Berau.
Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengungkapkan, audit yang dilakukan BPK belakangan ini berjalan cukup intensif karena pariwisata dinilai sebagai sektor strategis daerah.
“BPK memeriksa keseluruhan kinerja program kami sampai turun ke lapangan melihat langsung kondisi destinasi wisata. Jadi bukan hanya administrasi, tapi benar-benar melihat apakah pariwisata kita sudah layak menjadi sektor unggulan,” ujarnya.
Dari hasil pemantauan langsung tersebut, Samsiah mengakui masih banyak catatan penting yang menjadi perhatian.

Hambatan yang ditemukan mulai dari akses jalan menuju destinasi yang rusak, minimnya papan petunjuk arah wisata, hingga persoalan sampah dan kebersihan di objek wisata unggulan.
Persoalan kebersihan ini menjadi salah satu sorotan utama BPK, terutama di kawasan pesisir dan kepulauan yang selama ini menjadi andalan utama pariwisata Berau.
“Ketika BPK hadir ke destinasi wisata unggulan kita, ternyata masih banyak ditemukan sampah di sekitar lokasi wisata. Ini menjadi perhatian serius yang harus kita benahi bersama,” katanya.
Menurut Samsiah, pengelolaan destinasi wisata tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah.
Dibutuhkan keterlibatan aktif dari pemerintah kampung, kecamatan, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), hingga masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan wisata tetap bersih dan nyaman.
Sebagai langkah nyata, Disbudpar Berau mulai mendorong penguatan program Sapta Pesona melalui agenda lomba Pokdarwis yang digelar tahun ini.
Samsiah menjelaskan, Sapta Pesona menjadi fondasi paling penting dalam membangun desa wisata yang berkualitas.
Tujuh unsur tersebut meliputi aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan memberikan kenangan bagi wisatawan.
“Aman itu bukan hanya soal keamanan kriminalitas, tapi juga aman dari penipuan harga, aman dari penyakit, dan memberikan rasa nyaman bagi wisatawan,” jelasnya.
Ia mencontohkan praktik buruk menaikkan harga makanan secara tidak wajar atau “mengetok” harga saat musim liburan, yang dinilai sangat bertentangan dengan konsep Sapta Pesona.
“Kalau ada warung atau rumah makan yang tiba-tiba menaikkan harga saat wisatawan ramai, itu juga menciptakan rasa tidak aman bagi pengunjung,” ucapnya.
Oleh karena itu, Samsiah mengajak seluruh kepala kampung dan masyarakat untuk kembali membangun budaya gotong royong menjaga kebersihan destinasi wisata melalui program rutin, seperti Jumat Bersih atau Minggu Bersih.
Kesadaran menjaga lingkungan ini harus dimulai dari para pemimpin di tingkat kampung agar dapat diikuti oleh masyarakat secara luas.
“Kalau pemimpinnya yang memulai, tentu masyarakat juga akan lebih peduli menjaga kebersihan lingkungan wisata,” tambahnya. (Adv)





