Sentuhan Emas dari Limbah Kayu Besi: Inovasi Hijau Erly Setia Marwati

diterbitkan: Rabu, 22 April 2026 06:53 WITA
Kain batik khas Samarinda yang menggunakan pewarna alami dari limbah ulin. (Foto: RRI Samarinda)

NUSANTARA TERKINI – Tumpukan serbuk dan potongan kayu ulin di sudut bengkel penggergajian biasanya hanya berakhir sebagai sampah.

Di tangan Erly Setia Marwati, limbah kayu keras khas Kalimantan ini justru berubah menjadi cairan berharga yang memberi nyawa pada kain.

Melalui jenama DQriyaku, Erly membuktikan bahwa kekayaan alam Borneo tidak harus selalu dieksploitasi secara masif. Inovasi pewarna alami dari limbah ulin kini menjadi identitas baru bagi industri kreatif di Kalimantan Timur.

Langkah ini bermula dari kepedulian Erly terhadap lingkungan di sekitar tempat tinggalnya yang padat penduduk. Ia mencari cara agar proses produksi batiknya tidak mencemari lingkungan dengan zat kimia berbahaya.

Baca juga  Aktifkan Satgas RAFI, Pertamina Komitmen Layanan Energi Selama Ramadhan dan Idul Fitri 1445 H di Kaltim Terpenuhi

Pilihan jatuh pada limbah penggergajian kayu ulin yang melimpah dari sisa pembuatan meja dan kursi. Cairan pewarna yang dihasilkan memberikan sentuhan warna tanah yang sangat khas dan eksklusif.

“Limbah tersebut saya olah menjadi pewarna,” ujar Erly.

Kekuatan DQriyaku tidak hanya terletak pada warnanya saja. Narasi yang tertuang dalam setiap goresan canting menjadi daya tarik utama bagi para pencinta wastra.

Salah satu yang paling diminati adalah motif Lali Munting. Motif ini memadukan kelincahan Pesut Mahakam dengan kelembutan bunga karamunting yang tumbuh di tanah Kalimantan.

Baca juga  Emak-Emak Jangan Panik, Pertamina dan Pemkab Berau Segera Gelar Operasi Pasar Lpg 3 kg

Hadir pula motif Asmaralaya yang menangkap keeksotisan anggrek hitam dalam balutan pakis hutan. Erly bergerak cepat mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual untuk melindungi motif-motif ciptaannya tersebut.

Dukungan pemerintah daerah menjadi angin segar bagi pelaku UMKM untuk terus berinovasi. Setiap produk kini memiliki nilai sejarah dan keunikan tersendiri bagi konsumen yang memakainya.

Proses pembuatan batik ini memang jauh lebih rumit dibandingkan dengan batik pewarna sintetis. Tahapan dimulai dari pembersihan kain hingga proses fiksasi untuk mengunci warna agar tidak luntur.

Baca juga  Penyakit Tahunan Kembali Terulang, Gas 3 Kg Langka Jelang Lebaran

Karena menggunakan bahan organik, kain-kain ini memerlukan perawatan yang cukup khusus. Konsumen disarankan mencuci dengan sabun khusus atau sampo dan menghindari sinar matahari langsung.

Bagi Erly, kunci utama dalam merintis usaha kreatif adalah membuang rasa takut akan kegagalan. Ia meyakini bahwa keberanian untuk mencoba merupakan pintu menuju kesuksesan yang sebenarnya.

Kini produk DQriyaku bukan sekadar komoditas dagang semata. Produk ini adalah simbol penguatan ekonomi kerakyatan sekaligus upaya melestarikan budaya Kalimantan Timur.(Fatur/NT)

Bagikan:
Berita Terkait