Siap-Siap! Kaltim Masuk Kemarau Bulan Juni, Curah Hujan Mulai Mei Menurun

diterbitkan: Selasa, 7 April 2026 09:38 WITA
Kemarau Kaltim
Kemarau Kaltim diprediksi terjadi pada bulan Juni hingga Agustus mendatang. (Foto: Zuhri/NT)

NUSANTARA TERKINI — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan awal musim kemarau untuk wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).

Secara umum, transisi cuaca diprediksi mulai terjadi pada Juni 2026 berdasarkan pengamatan di 18 zona musim yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Joko Sumardiono, menjelaskan bahwa penurunan intensitas hujan akan mulai terasa sejak Mei mendatang.

Memasuki Juni, seluruh wilayah Kaltim diprediksi tidak lagi menerima curah hujan secara signifikan.

“Puncak musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung pada Agustus. Meski demikian, masyarakat tidak perlu terlalu resah karena intensitasnya diperkirakan tidak seekstrem tahun 2015 saat terjadi fenomena El Niño,” ujar Joko, Selasa (7/4/26).

Baca juga  Duduk Perkara Viral Mobil Dinas Mewah Gubernur Kaltim Rp 8,5 Miliar

Mitigasi Mandiri: Panen Hujan dan Ruang Hijau

Menghadapi fase kering ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi mandiri.

Salah satu strategi yang disarankan adalah mengoptimalkan “panen hujan” selama April ini, mengingat potensi hujan ringan masih tersedia di beberapa titik.

Cadangan air hujan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai stok selama masa kemarau panjang. Selain itu, masyarakat diminta menjaga dan memperluas ruang terbuka hijau di lingkungan masing-masing agar suhu udara tetap sejuk meski cuaca sedang terik.

Baca juga  RSUD Talisayan Ditinggal Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Padahal Baru 1 Tahun Bertugas

“Pemanfaatan air hujan sebagai cadangan dan menjaga area hijau sangat penting untuk meminimalkan dampak kekeringan di tingkat rumah tangga,” tambahnya.

Waspada Titik Panas dan Karhutla

Seiring dengan berkurangnya curah hujan, BMKG juga memberikan peringatan dini terkait peningkatan titik panas (hotspot).

Kewaspadaan terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) harus ditingkatkan, terutama dalam penggunaan api di area terbuka.

Baca juga  Enam Bank Mulai Pembangunan di IKN, Target Beroperasi di 2026

Masyarakat diminta lebih bijak, seperti tidak membakar sampah secara sembarangan hingga tidak membuang puntung rokok di area yang mudah terbakar. Langkah kecil ini dinilai krusial untuk mencegah bencana kebakaran yang lebih besar.

Guna memastikan kenyamanan publik, BMKG tetap membuka ruang informasi dan umpan balik terkait perkembangan cuaca terkini.

Hal ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam merencanakan aktivitas sehari-hari tanpa perlu merasa khawatir berlebih terhadap perubahan musim tahun ini.(*/Rusdiono/NT)

Bagikan:
Berita Terkait