NUSANTARA TERKINI – Ribuan calon jemaah haji asal Kalimantan Timur kini diselimuti ketidakpastian jelang jadwal keberangkatan ke Tanah Suci. Konflik bersenjata yang berkecamuk di Timur Tengah memaksa pemerintah mengevaluasi ulang jaminan keamanan penerbangan.
Tahun ini provinsi tersebut mendapat kuota pemberangkatan sebanyak tiga ribu seratus delapan puluh sembilan orang. Mereka dijadwalkan mulai masuk asrama haji pada akhir bulan depan.
Kepala Bidang Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Timur Mohlis Hasan mengingatkan kembali syarat wajib ibadah haji. Ia menegaskan bahwa rukun Islam kelima ini hanya diwajibkan bagi umat yang sehat, mampu, serta berada dalam kondisi aman.
“Kalau kondisi tidak aman, maka tidak diwajibkan berangkat,” kata Mohlis pada Rabu (4/3/26).
Ancaman Udara di Jalur Penerbangan
Pertikaian antara Iran dan Israel yang menyeret Amerika Serikat membuat rute udara menuju Arab Saudi menjadi sangat berisiko. Lintasan pesawat komersial yang membelah langit negara negara konflik tersebut menjadi perhatian serius pemerintah.
Situasi pertempuran modern saat ini dinilai jauh lebih kompleks dan membahayakan warga sipil. Potensi salah sasaran pada maskapai penerbangan sipil harus dihitung secara matang demi menyelamatkan nyawa para penumpang.
“Risiko di jalur penerbangan harus benar-benar diperhitungkan,” ujar dia.
Nasib Jemaah Umrah Ditunda
Kewaspadaan tinggi ini sebenarnya sudah diterapkan pada jadwal ibadah umrah sejak akhir bulan lalu. Kementerian Agama telah menginstruksikan seluruh biro perjalanan wisata religi untuk menunda keberangkatan jemaah baru akibat kondisi yang belum kondusif.
Masyarakat diminta bersabar dan terus memantau informasi resmi dari maskapai penerbangan. Bagi umat Islam yang telanjur berada di Makkah atau Madinah dipersilakan menuntaskan ibadahnya dengan tenang.
“Tapi keberangkatan berikutnya kami sarankan ditunda dulu,” ucap Mohlis.





