Usulan Efisiensi Program MBG, Mensesneg: Sedang Kita Finalkan

diterbitkan: Sabtu, 28 Maret 2026 09:33 WITA
Peninjauan program MBG. (Foto: Berita Satu Photo)

NUSANTARA TERKINI – Badan Gizi Nasional (BGN) mengusulkan kepada pemerintah untuk mempertimbangkan pengurangan hari pemberian program makan bergizi gratis (MBG).

Usulan dari BGN, pemberian MBG yang dilakukan enam kali dalam sepekan, diminta untuk dijadikan lima kali.

Diharapkan, rencana efisiensi ini dapat menekan pengeluaran anggaran hingga sekitar Rp40 triliun.

Hal ini pun mendapat tanggapan dari pihak Istana melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi.

Baca juga  Menhan Prabowo Tinjau Kesiapan Lokasi Upacara HUT RI Perdana di IKN

Prasetyo menyebutkan, kebijakan ini masih dalam tahap finalisasi.

“Sedang kita finalkan,” ujar Prasetyo sebagaimana yang dikutip dari Beritasatu.com, jejaring media ini pada Jumat (27/3/2026).

Saat ini pemerintah tengah menyisir anggaran di seluruh kementerian dan lembaga untuk meredam dampak konflik di Timur Tengah.

Konflik tersebut dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga minyak yang berimbas pada alokasi belanja negara.

Baca juga  Bupati Sri dan Wabup Gamalis Lakukan Pemeriksaan Kesehatan, Pastikan Kesiapan Fisik Ikut Retret Kepala Daerah di Jatinangor

Hingga kini, nilai anggaran yang telah direalokasi mencapai Rp81 triliun.

“Itu kan bagian dari semua yang saya sisir,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menilai efisiensi anggaran MBG dapat dilakukan untuk mengalihkan dana ke belanja yang lebih produktif.

Meski demikian, Purbaya menegaskan kualitas makanan yang diberikan tidak akan dikurangi.

Baca juga  Cara TNI-Polri Jaga Kamtibmas Jelang Pemilu, Patroli Skala Besar di Ibu Kota Kaltara

“Mereka (BGN) melakukan efisiensi sendiri. Lalu mereka menanyakan ke saya. Selama ada efisiennya, saya setuju saja. Dan tidak mengurangi kualitas makanannya sendiri,” kata Purbaya.

Purbaya menekankan, efisiensi anggaran dilakukan dalam tiga tahap. Tujuannya agar anggaran yang sebelumnya digunakan untuk belanja nonproduktif dapat dialihkan ke belanja yang lebih prioritas dan memberikan dorongan signifikan terhadap perekonomian. (**)

Bagikan:
Berita Terkait