NUSANTARA TERKINI,- Sengketa batas wilayah berlarut-larut antara Kabupaten Berau dan Kutai Timur mencapai puncaknya hari ini, Selasa (3/3/2026).
Warga Biatan Ulu dan Biatan Ilir merasa diabaikan oleh pemerintah daerah terkait konflik tapal batas yang tak kunjung menemukan titik terang selama hampir 12 tahun.
Kekecewaan warga disuarakan langsung oleh Kepala Kampung Biatan Ilir, Abdul Hafid, dalam pertemuan bersama perwakilan pemerintah daerah dan DPRD.
Ia membeberkan kerugian besar yang ditanggung masyarakat akibat ketidakpastian hukum ini, baik secara ekonomi maupun psikologis.
“Ini sudah berjalan hampir 12 tahun, Pak. Kami sudah hearing di sini tanggal 23 kemarin, dijanjikan tim terpadu dan posko. Tapi mana? Apakah isinya Hansip atau Security? Saya tidak lihat ada apa-apa di sana,” tegas Abdul Hafid.
Kemarahan warga memuncak setelah muncul tindakan provokatif dari pihak Kutai Timur yang menghalangi pembangunan di wilayah sengketa. Bahkan, bangunan SD yang telah selesai 75 persen terpaksa dibongkar atas desakan pihak luar.
“SD sudah dibangun 75 persen, mereka (pihak Kutim) bisa gagalkan. Ini yang jadi kekuatan mereka. Di mana kekuatan Pemda Berau?,” keluh Hafid.
Tindakan dari pihak luar terus merajalela, bahkan warga dari wilayah Melawai dilaporkan menyerobot lahan kelapa sawit siap panen milik warga Biatan. Merasa aspirasinya tak digubris, Hafid memberikan ultimatum kepada Pemkab Berau.
“Kalau Bapak tidak percaya, tunggu jam 4 sore. Warga saya datang berapa mobil ke sini. Ini bukan rekayasa, ini masalah nyawa warga saya. Saya malu ribut-ribut begini, tapi ini tanggung jawab saya,” ancamnya.
Hafid mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan sengketa ini dan memberikan kepastian hukum bagi warganya. Jika tidak, ia mengancam akan mengerahkan massa untuk turun ke jalan menuntut keadilan. (*)





