Bunga Langka Raflesia Ditemukan di Gunung Hantu Berau, Jadi Magnet Baru Wisata Teluk Sumbang

diterbitkan: Jumat, 17 April 2026 03:40 WITA
Bunga Raflesia di hutan Gunung Hantu, Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Bidukbiduk, ketika sedang mekar. (IST)
Bunga Raflesia di hutan Gunung Hantu, Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Bidukbiduk, ketika sedang mekar. (IST)

NUSANTARA TERKINI — Warga Kampung Teluk Sumbang menemukan bunga raflesia di jalur pendakian Gunung Hantu.

Penemuan berharga ini terjadi sesaat sebelum masa lebaran lalu oleh warga setempat.

Bunga langka tersebut ditemukan tumbuh pada titik lokasi di ketinggian 504 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Saat ini, jenis raflesia yang tumbuh tersebut masih dalam tahap penelitian oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hasil resmi mengenai identitas bunga itu masih dinantikan oleh pemerintah kampung dan masyarakat. 

Potensi bunga raflesia di Teluk Sumbang sebenarnya tersebar di beberapa lokasi berbeda.

“Sebenarnya bunga raflesia potensinya sudah ada di Teluk Sumbang di beberapa titik, cuma kita belum tahu jenisnya ini raflesia apa,” ungkap Plt Kepala Kampung Teluk Sumbang, Badri.

Baca juga  Padukan Event Seni dan Konten Kreatif, Nurjatiah Ungkap Strategi Jitu Hidupkan Museum Batiwakkal

Bunga raflesia hanya mekar sekali dalam jangka waktu delapan hingga sembilan bulan. 

Masa mekarnya pun sangat singkat karena hanya mampu bertahan selama satu minggu saja. 

Wisatawan dapat menggunakan sepeda motor melalui jalur provinsi arah Kutai Timur untuk menuju lokasi.

Setelah menempuh perjalanan motor selama 15 menit, pengunjung harus berjalan kaki selama 1,5 jam. 

Medan jalan menuju Gunung Hantu cukup menanjak sehingga menantang bagi para pendaki pemula. 

Kelelahan selama perjalanan akan terbayar saat sampai di titik lokasi bunga tersebut berada.

Baca juga  Pesona Gunung Hantu Teluk Sumbang, Tawarkan Sensasi Mendaki Hutan Perawan dan View Laut Lepas

Potensi besar ini telah dikomunikasikan kepada dinas terkait untuk pengembangan lebih lanjut. 

Namun, rencana peresmian wisata masih terkendala kondisi jalur yang kurang memadai. 

Pemerintah kampung berencana bekerja sama dengan Dinas Pariwisata untuk melakukan peluncuran resmi.

“Rencana kalau memang jalurnya sudah bagus, rencana kami mau kerja sama Dinas Pariwisata, kerja sama untuk launching,” ujar Badri.

Pemerintah kampung juga menyiapkan paket wisata khusus saat bunga diperkirakan mekar pada bulan Desember. 

Kunjungan akan dibatasi secara ketat guna menjaga keasrian habitat asli bunga langka tersebut. 

Hal ini dilakukan agar pertumbuhan raflesia tidak terganggu oleh aktivitas manusia yang berlebihan.

Baca juga  Promosi Wisata Darat Perlu Banyak Event untuk Tarik Wisatawan 

Dulu, masyarakat setempat sempat menganggap bunga ini sebagai hama di kebun mereka. 

Bunga ini dikenal oleh warga lokal dengan nama tradisional Buli Kalak sejak lama. 

Namun, seiring berkembangnya media sosial, warga mulai menyadari bahwa tumbuhan ini sangat langka.

Kesadaran warga untuk menjaga aset alam ini kini semakin meningkat secara signifikan. 

Sejauh ini, bunga raflesia di lokasi tersebut tercatat sudah mekar sebanyak dua kali. 

Ada satu kejadian gagal mekar karena posisi tumbuh di bawah akar yang menyebabkan pembusukan.

“Pas mungkin mau berkembang, sangkut atau bagaimana jadi tidak bisa tumbuh mekar seperti yang lainnya,” pungkas Badri. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait