NUSANTARA TERKINI – Barikade kawat berduri yang mengepung Kantor Gubernur Kalimantan Timur ternyata tak cukup tajam untuk menyurutkan nyali ribuan demonstran.
Selasa (21/4/2026) siang, suasana di Jalan Gajah Mada mendadak riuh saat sekitar 7.000 massa aksi berhasil menggulung pagar kawat tersebut sebagai bentuk protes atas pembatasan ruang aspirasi.
Setelah sempat beristirahat sejenak di kawasan Islamic Center, gelombang massa yang terdiri dari mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat kembali tumpah ke jalan.
Setibanya di depan Kantor Gubernur, mereka disambut oleh pagar kawat berduri yang dipasang rapat melingkari area gedung.
Namun, ketegangan itu justru memicu aksi simbolis. Mahasiswa yang berada di barisan terdepan secara perlahan namun pasti mulai menggulung kawat tajam tersebut ke arah luar, sembari diiringi sorak-sorai ribuan demonstran lainnya.
“Ini bukan hanya soal menyingkirkan pagar fisik, tapi tentang bagaimana pemerintah tidak boleh menghalangi suara rakyat dengan pembatas apa pun. Kami datang untuk didengar, bukan untuk dipagari,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.
Tiga Tuntutan Utama Tetap Membara
Meski situasi sempat memanas akibat aksi dorong-dorongan di depan barikade, massa tetap fokus pada substansi gerakan mereka.
Di atas “panggung rakyat”, mereka kembali menuntut tiga hal krusial kepada Pemerintah Provinsi Kaltim: audit menyeluruh kebijakan daerah, penghentian total praktik KKN, serta transparansi pemerintahan yang nyata.
Aksi menggulung kawat berduri ini dianggap massa sebagai simbol runtuhnya sekat dialog antara penguasa dan rakyat.
Mereka menegaskan bahwa aspirasi tidak akan bisa dibendung oleh besi sekecil apa pun jika pemerintah tetap menutup telinga terhadap isu-isu strategis di Benua Etam.
Pengawalan Persuasif
Di sisi lain, aparat keamanan yang berjaga tetap berusaha mengedepankan pendekatan persuasif. Meski pagar pengaman mereka “tumbang” di tangan massa, pihak kepolisian terus memberikan imbauan agar unjuk rasa tetap berjalan tertib tanpa ada tindakan anarkis yang merugikan fasilitas publik.
Hingga sore hari, ribuan massa masih bertahan di lokasi, memastikan kehadiran mereka memberikan tekanan nyata. Aksi ini menjadi kelanjutan dari rangkaian demonstrasi besar-besaran 21 April di Kaltim yang menuntut perubahan besar dalam tata kelola pemerintahan provinsi.(Fatur/NT)





