Uman Undat, Tradisi Ungkap Rasa Syukur Atas Hasil Bumi Suku Dayak Kenyah Lepoq di Segah

diterbitkan: Senin, 25 Mei 2026 09:00 WITA
Uman Undat Warga Dayak Kenyah Lepoq Berau
Warga Kampung tepiah buah saat melakukan tradisi menumbuk beras dalam prosessi Uman Undat. (Foto: Zuhri/NT)

NUSANTARA TERKINI– Masyarakat Adat Dayak Kenyah Lepoq di Kampung Tepian Buah, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, kembali menggelar tradisi tahunan Uman Undat, Sabtu (23/5/2026).

Ritual adat yang dilaksanakan pasca-panen padi ini merupakan bentuk ungkapan syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil bumi dan perlindungan selama musim tanam.

Ketua Adat Dayak Kenyah Tepian Buah, Askila Lujuk, menjelaskan, Uman Undat bukanlah sekadar pesta rakyat, melainkan warisan leluhur yang sarat akan nilai spiritual dan historis.

“Acara Uman Undat ini memang satu acara yang dulu rutin dilaksanakan oleh leluhur kita, bahkan sejak zaman kita masih menganut kepercayaan animisme,” ujar Askila saat ditemui di sela-sela acara.

Baca juga  Sosok Astri, Bhabinkamtibmas Perempuan di IKN

Menjaga Tradisi Lintas Zaman

Menurut Askila, ritual ini telah melewati berbagai era kepercayaan lokal, mulai dari masa adat un hingga peralihan ke Ungan Walan Pesung Uluan. 

Di kedua era tersebut, Uman Undat selalu rutin digelar setiap akhir musim tanam padi sebagai bentuk penghormatan kepada pencipta semesta.

Ia juga meluruskan persepsi keliru mengenai waktu pelaksanaan ritual ini.

Baca juga  Masuki Hari Ketiga, Pencarian Karyawan PT Aksa yang Hilang di Hutan Diperluas hingga 37 Km

Askila menegaskan, Uman Undat wajib digelar setiap tahun setelah proses potong padi selesai, tanpa harus menunggu adanya panen raya yang besar.

“Setiap tahun dilaksanakan, bukan tergantung dengan panen raya. Berapapun hasil yang kita dapatkan, kita harus tetap mensyukuri bahwa Sang Pencipta sudah memelihara dan menjaga kita semua dalam satu musim tanam,” tegasnya.

Filosofi Kebersamaan dalam Sepotong Bambu

Secara harfiah dan prosesi, Uman Undat merefleksikan nilai gotong royong dan kebersamaan yang kuat antarwarga kampung.

Nama tradisi ini merujuk langsung pada proses pembuatan hidangan khas yang dikonsumsi bersama.

Baca juga  Pertamina Pastikan Stok dan Penyaluran LPG hingga BBM Kalimantan Timur Aman

Prosesinya dimulai dari warga yang mengumpulkan beras hasil panen secara kolektif.

Beras tersebut kemudian ditumbuk bersama-sama hingga menjadi tepung halus.

Selanjutnya, adonan tepung dimasukkan ke dalam bilah-bilah bambu untuk dimasak di atas bara api.

Setelah matang, hidangan tersebut disajikan dan disantap bersama seluruh masyarakat.

“Kita kumpul, kita tumbuk jadi tepung, masukkan di bambu, kita masak, baru kita bersama-sama memakannya. Di situlah letak rasa syukur dan kebersamaannya,” pungkas Askila. (*)

Bagikan:
Berita Terkait