NUSANTARA TERKINI – Sektor ekonomi kreatif di Kalimantan Timur diam-diam mulai menunjukkan taringnya sebagai motor penggerak ekonomi baru.
Tanpa banyak keriuhan, kontribusi sektor ini telah menembus angka fantastis Rp30 triliun atau setara dengan 5,6 persen dari total perputaran ekonomi di Benua Etam.
Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bahwa ketergantungan daerah terhadap sektor sumber daya alam mulai bergeser ke arah industri kreatif yang lebih berkelanjutan.
Dominasi Kuliner hingga Tenun Samarinda
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bidang Sumber Daya Alam dan Perekonomian Arief Murdiyatno menjelaskan bahwa peluang pengembangan sektor ini masih sangat terbuka lebar.
Saat ini pergerakan ekonomi kreatif di Kaltim masih didominasi oleh tiga subsektor utama yakni kuliner, kriya, dan fashion.
Salah satu produk yang menjadi primadona adalah Tenun Samarinda. Produk fashion berbasis budaya ini dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menjadi identitas daerah yang berpotensi besar merambah pasar premium seiring hadirnya Ibu Kota Nusantara atau IKN.
Kehadiran IKN dipandang sebagai pasar baru yang sangat potensial bagi produk-produk lokal yang memiliki kekhasan daerah.
Pemerintah optimis pelaku usaha kreatif Kaltim bisa naik kelas dengan memanfaatkan momentum perpindahan ibu kota tersebut.
“Angka ini menunjukkan peluangnya masih sangat besar untuk dikembangkan,” ujar Arief Murdiyatno di Samarinda.
Tantangan Ekspor dan Solusi Satu Pintu
Meski mencatatkan angka triliunan rupiah di pasar domestik, kontribusi ekonomi kreatif Kaltim untuk pasar ekspor diakui belum optimal.
Saat ini komoditas ekspor daerah masih didominasi oleh sarang burung walet dan produk turunan kayu yang bersifat konvensional.
Untuk memutus hambatan tersebut, pemerintah daerah mulai memperkuat sistem pelayanan ekspor melalui mekanisme satu pintu di Pelabuhan Palaran.
Langkah ini diharapkan membuat produk kreatif seperti kerajinan tangan dan fashion bisa langsung terbang ke pasar global secara lebih efisien.
Selain kendala logistik, masalah permodalan juga menjadi perhatian serius bagi pelaku UMKM. Kolaborasi dengan lembaga keuangan seperti Bank Indonesia dan OJK pun terus ditingkatkan guna memperluas akses pembiayaan serta literasi keuangan bagi para perajin.
“Ke depan kita harapkan produk ekraf juga bisa diekspor langsung,” pungkas Arief Murdiyatno.(*/Rusdiono/NT)





