Jelang Nataru, Harga Cabai dan Bawang Merah di Samarinda Masih ‘Pedas’

diterbitkan: Selasa, 16 Desember 2025 03:58 WITA
Cabai jadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga jelang Nataru

SAMARINDA – Harga cabai di beberapa pasar di Samarinda semakin pedas setelah mengalami kenaikan, jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Dari pantauan laman resmi Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda, cabai rawit di Pasar Baqa telah menyentuh Rp65 ribu per kilogram. Di Pasar Segiri, Merdeka dan Palaran, harganya berkisar Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.

Kondisi tak jauh berebda juga terjadi pada komoditas bawang merah yang harganya cenderung bertahan di level tinggi. Harga awang merah kecil saat ini dijual di angka Rp60 ribu per kilogram, sedangkan ukuran besar bisa mencapai Rp65 ribu.

Baca juga  Aduh, Jembatan Mahakam Ditabrak Lagi, Kali Kedua dalam Empat Bulan

“Kalau bawang putih tidak naik, masih di harga Rp35-40 Ribu. Tapi bawang merah cenderung naik,” kata Laila, pedagang di Pasar Merdeka Samarinda.

Mengantisipasi gejolak harga, Disdag menyiapkan penjualan bahan pokok dengan harga modal pada pelaksanaan Car Free Day (CFD) GOR Segiri akhir pekan ini. Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani menjelaskan, langkah itu merupakan uji coba distribusi langsung, bukan operasi pasar. Penjualan dibatasi agar tepat sasaran bagi kebutuhan rumah tangga.

Baca juga  Besok, BBPJN Kaltim Bakal Lakukan Uji Beban di Jembatan Mahakam

“Kita hanya menjual dengan harga modal untuk menyambut Natal. Jumlahnya dibatasi dan masih ada waktu seminggu lagi untuk melihat kebutuhan,” kata Nurrahmani.

Komoditas yang disediakan meliputi cabai dan bawang merah. Pada tahap awal, kuotanya satu karung untuk melihat respons warga. Jika cepat habis, maka jumlahnya akan ditambah. Disdag Samarinda juga telah berkoordinasi dengan distributor yang siap membantu tanpa mengambil keuntungan.

Baca juga  Ramp Check Bus Damri Jelang Nataru, Pemprov Kaltara Tekankan soal Keselamatan dan Kelancaran

“Dulu ketika harga cabai mahal, penjualan kami tidak terlalu banyak. Mungkin waktu itu yang ramai adalah penjual,” katanya.

Yama menambahkan, kegiatan ini tidak disertai subsidi karena bukan operasi pasar. Namun uji coba mobil inflasi di CFD menjadi bahan evaluasi kebutuhan masyarakat ke depan. Penjualan dilakukan per seperempat kilogram agar lebih terjangkau.

Bagikan:
Berita Terkait