NUSANTARA TERKINI – Suasana hangat buka puasa bersama di rumah jabatan (rumjab) Bupati Bulungan Syarwani mendadak berubah menjadi haru pada Jumat (13/3/2026) malam. Seorang pemuka masyarakat bernama Haji Datu Muhammad Idris mengembuskan napas terakhirnya tepat saat memimpin salat Magrib.
Tidak ada tamu undangan yang menyangka, ibadah tersebut menjadi pengabdian terakhir sang pensiunan aparatur sipil negara. Almarhum mendadak lemas dan tersungkur sesaat sebelum mengucapkan salam penutup.
Detik Mendebarkan Sesaat Sebelum Salam
Menurut kesaksian sejumlah jamaah yang hadir kondisi almarhum terlihat sangat bugar saat mengawali rangkaian silaturahmi. Sebagai sosok yang dihormati warga beliau memang dipercaya untuk menjadi imam salat di kediaman bupati tersebut.
Namun takdir sang pencipta berkata lain saat rakaat terakhir hampir usai ditunaikan. Tubuh pria bersahaja itu mendadak ambruk di hadapan para makmum yang sedang khusyuk beribadah.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dokter Soemarno Sosroatmodjo Widodo Darmo Sentoso yang berada di lokasi langsung bergerak cepat memberikan pertolongan medis. Upaya resusitasi jantung paru sempat diusahakan sebelum jamaah membawa almarhum menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Sayangnya nyawa sang imam tetap tidak tertolong saat berada dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kepergiannya di bulan suci ini meninggalkan duka mendalam sekaligus rasa kagum dari warga yang mengenal rekam jejaknya.
“Beliau sosok yang sangat santun dan meninggal dunia di sela ibadah dalam suasana bulan yang suci. Ini akhir yang sangat indah,” ungkap salah seorang rekan sejawat almarhum dengan nada bergetar.
Teladan Abdi Negara dan Pemuka Agama
Semasa hidupnya Datu Idris dikenal luas sebagai abdi negara yang berdedikasi tinggi di Dinas Pertanian. Meski telah memasuki masa purna tugas semangatnya untuk berbagi ilmu kepada masyarakat sekitarnya tidak pernah redup.
Rekan kerjanya selalu menganggap beliau sebagai pakar di bidang pertanian sekaligus figur ayah yang menyejukkan suasana. Beliau juga sangat aktif memimpin warga sebagai ketua rukun tetangga di lingkungan tempat tinggalnya.
Almarhum rutin menghabiskan sisa waktunya dengan mengabdi sebagai imam di Langgar Al Ishlaah tidak jauh dari kediamannya. Malam ini Kabupaten Bulungan kehilangan sosok teladan yang membuktikan bahwa pengabdian tulus hanya akan terhenti saat maut menjemput.





