Sudah Tembus Pasar Tiongkok, Intip Potensi Bisnis Rumput Laut di Kampung Karangan Berau

diterbitkan: Senin, 18 Mei 2026 06:18 WITA
Rumput Laut Berau
Proses penjemuran rumput laut di Kampung Karangan. (Foto: Dini Diva/Berauterkini.co.id)

NUSANTARA TERKINI – Sektor pesisir Kabupaten Berau kini menyimpan ladang emas baru yang sangat menjanjikan bagi masyarakat dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Di tengah upaya daerah melakukan transformasi ekonomi dari ketergantungan sektor tambang, budidaya rumput laut di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, mencuat sebagai bisnis primadona karena menawarkan perputaran modal yang cepat serta pasar yang luas hingga ke luar negeri.

Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau mencatat, komoditas rumput laut di wilayah ini tumbuh subur di atas lahan seluas 60 hektare yang dikelola oleh sekitar 40 rumah tangga perikanan. Keberhasilan ini tidak lepas dari kecocokan geografis Kampung Karangan yang berada di kawasan air payau.

Baca juga  Berkas Predator Seksual Sesama Jenis di Berau Diterima Kejaksaan, Kasus AS Segera Disidangkan

Hitung-hitungan Cuan: Modal Cepat Balik dan Bebas Biaya Pakan

Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, membeberkan bahwa investasi di sektor ini tergolong sangat menggiurkan berkat efisiensi operasionalnya.

Berbeda dengan budidaya ikan atau udang yang membutuhkan biaya pakan tinggi dan perawatan ekstra, rumput laut sama sekali tidak memerlukan pakan.

Dari sisi siklus bisnis, masa tunggu panen rumput laut relatif sangat singkat, yakni hanya sekitar 45 hari saja. Dengan estimasi investasi awal sekitar Rp45 juta untuk penyiapan sarana bentangan tali dan bibit, para pembudidaya sudah bisa menikmati keuntungan yang kompetitif sejak panen pertama.

“Modalnya sekali panen bisa kembali dan masih ada marginnya,” ungkap Budiono belum lama ini.

Baca juga  Rencana Pengadaan Truk Penyedot Lumpur, Wabup Berau Minta Evaluasi Pemanfaatan yang Ada

Nilai tambah komoditas ini kian berlipat karena rumput laut memiliki nilai turunan yang sangat luas untuk industri hilir, mulai dari bahan baku kosmetik, pangan, hingga sektor kesehatan.

Harga Pasar Ekspor Lebih Menggiurkan

Manisnya bisnis “emas hijau” di Kecamatan Biatan ini kian terasa setelah berhasil menembus pasar internasional. Saat ini, produksi rumput laut kering dari Kampung Karangan rutin diekspor ke negara mitra seperti Tiongkok dan Hongkong.

Dalam kurun waktu tiga bulan, pengiriman dari Berau mampu mencapai dua kontainer atau setara dengan 40 ton, dengan proyeksi produksi tahunan menembus 160 hingga 360 ton.

Secara finansial, pasar ekspor memberikan keuntungan yang jauh lebih besar bagi nelayan setempat. Harga jual rumput laut kering untuk pasar ekspor saat ini menyentuh angka sekitar Rp15.000 per kilogram.

Baca juga  Takut Ketahuan Siapa? Rapat Dana CSR di DPRD Berau Mendadak Tertutup

Angka tersebut terpaut cukup signifikan jika dibandingkan dengan harga di pasar domestik atau lokal yang hanya berkisar antara Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram.

Melihat potensi cuan yang melimpah ini, Dinas Perikanan Berau terus berkomitmen menggenjot kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal.

Tahun ini, pemerintah daerah akan memberangkatkan lima pembudidaya lokal ke Balai Besar Budidaya Rumput Laut di Takalar, Sulawesi Selatan, untuk memperdalam keterampilan budidaya modern.

Langkah ini diharapkan dapat memicu minat lebih banyak masyarakat pesisir Berau untuk beralih menjadi pengusaha rumput laut ekspor yang mandiri dan berkelanjutan.(*)

Bagikan:
Berita Terkait