NUSANTARA TERKINI – Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menghantui wilayah Kalimantan Timur seiring melonjaknya jumlah titik panas atau hotspot dalam beberapa hari terakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan mengeluarkan peringatan dini kepada seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra guna mencegah terjadinya bencana kabut asap yang merugikan.
Lonjakan suhu ekstrem ini disinyalir mulai terjadi pasca perayaan Idulfitri pekan lalu, di mana cuaca panas menyengat menyelimuti hampir seluruh wilayah Bumi Etam.
Fenomena alam ini pun memicu munculnya ratusan titik panas yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
“Cuaca dalam beberapa hari terakhir sejak Idulfitri pekan lalu memang panas. Kondisi ini kemudian memicu munculnya banyak titik panas,” ungkap Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, dikutip Minggu (29/3/2026).
Berdasarkan pantauan satelit, Jumat (27/3/2026), sebaran titik panas tercatat sangat masif di enam wilayah sekaligus.
Kabupaten Kutai Timur menjadi daerah yang paling mengkhawatirkan dengan temuan mencapai 125 titik panas.
Sementara itu, wilayah lain yang turut terdeteksi di antaranya Kutai Kartanegara dengan 20 titik, Kabupaten Paser 10 titik, serta Kabupaten Berau sebanyak 11 titik.
Kawasan perkotaan seperti Bontang dan Balikpapan pun tak luput dari ancaman dengan total gabungan lima titik panas.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tindakan ceroboh yang dapat memicu kobaran api besar, seperti membakar sampah sembarangan atau membuang puntung rokok yang masih menyala di area lahan kering.
Mengingat kondisi hutan dan perkebunan saat ini sangat mudah terbakar akibat tumpukan daun kering, satu percikan api kecil saja bisa berakibat fatal bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan pernapasan warga.
Sinergi BPBD dan Dinas Terkait
BMKG juga meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di setiap wilayah untuk segera melakukan pengecekan fisik di lokasi-lokasi yang telah terdeteksi satelit.
Langkah verifikasi lapangan sangat krusial untuk memetakan potensi bahaya sebelum api benar-benar meluas.
Koordinasi lintas sektor kini menjadi kunci utama dalam melakukan mitigasi dini di tengah cuaca panas yang diprediksi masih akan berlanjut.
“Tim dari BPBD bersama unsur terkait saat datang ke lokasi biasanya sudah bisa memastikan apakah titik panas ini rawan menyebabkan karhutla atau tidak. Jika rawan, maka mereka langsung melakukan penanganan,” jelas Carolina.
Selain BPBD, instansi terkait seperti Dinas Pertanian dan Perkebunan juga diharapkan aktif mengedukasi para petani agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Hal itu demi menjaga stabilitas ekologi Kaltim di awal tahun ini. (*)





