NUSANTARA TERKINI – Sapi kurban bantuan Presiden Republik Indonesia untuk Kota Samarinda pada perayaan Iduladha 2026 dipastikan siap didistribusikan ke panitia hewan kurban.
Hewan kurban jenis limosin berbobot jumbo seberat 975 kilogram tersebut dijadwalkan akan disembelih di Masjid Raya Darussalam, Samarinda, Kalimantan Timur.
Sapi jantan raksasa yang diberi nama “Milyar” ini mendadak menjadi pusat perhatian masyarakat luas lantaran nilai jualnya yang fantastis, yakni menembus angka sekitar Rp111 juta.
Hebatnya, hewan kurban premium pilihan kepala negara tersebut bukan didatangkan dari luar pulau, melainkan murni hasil budidaya peternak lokal Samarinda.
Hasil Seleksi Ketat Tim Kepresidenan
Sapi eksotik bertubuh kekar ini berhasil lolos setelah melalui serangkaian proses kurasi dan seleksi yang sangat ketat dari dinas terkait bersama perwakilan istana.
Aspek penilaian tidak hanya bertumpu pada keunggulan berat fisik semata, melainkan juga rekam jejak kesehatan yang paripurna.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda Maskuri menjamin kualitas komoditas hewan kurban pilihan tersebut.
“Ada sejumlah aspek yang menjadi perhatian dalam proses penentuan sapi kurban, mulai dari kondisi fisik, kesehatan, hingga asal-usul hewan,” ujarnya saat dikonfirmasi,pada Kamis (21/5/2026).
Maskuri menguraikan bahwa sapi kurban presiden ini masuk dalam kategori sapi eksotik yang mendapatkan pola perawatan intensif dan pakan khusus yang berbeda dari mamalia ternak pada umumnya.
Pemerintah daerah bertugas menyaring dan mengusulkan kandidat terbaik sebelum tim kepresidenan melakukan transaksi langsung dengan pemiliknya.
Kebanggaan Peternak Lokal Sempaja
Sapi Milyar diketahui dibesarkan oleh salah satu pemasok lokal andalan, yaitu peternakan Sapi Sutha Samarinda yang berlokasi di kawasan Jalan Wahid Hasyim, tepat di depan Kantor Pos Sempaja.
Keberhasilan menembus pasar kepresidenan ini menjadi bukti tingginya mutu peternakan di wilayah Kalimantan Timur.
Seluruh tahapan pemeriksaan medis berkala juga telah rampung dilakukan demi mendeteksi potensi penyakit kuku dan mulut maupun parasit berbahaya lainnya.
Maskuri menegaskan kepastian kelaikan konsumsi atas daging hewan besar tersebut bagi para penerima manfaat kelak.
“Pemilihan sapi dilakukan berdasarkan bobot, harga yang ditawarkan, tracking asal-usul sapi, hingga kondisi kesehatannya,” pungkasnya.(*)






