NUSANTARA TERKINI – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memprakirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan menghadapi musim kemarau lebih awal pada tahun ini. Kondisi cuaca yang mengering ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina sejak Februari lalu dan pergerakan menuju fase netral.
Peralihan tersebut membuka peluang besar munculnya fenomena El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada pertengahan tahun. Perubahan anomali iklim di Samudera Pasifik ini dipastikan berdampak langsung pada penyusutan tingkat curah hujan di tanah air.
Pemetaan Wilayah Kekeringan
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Teuku Faisal Fathani memaparkan bahwa indeks cuaca global saat ini masih relatif stabil. Namun pergantian arah angin dari benua Asia menuju Australia akan mempercepat masuknya fase kemarau.
Data otoritas cuaca negara mencatat hampir separuh zona musim di Indonesia akan mengalami awal kemarau yang lebih cepat dari jadwal normal. Sebagian pesisir utara Jawa, Nusa Tenggara, hingga pesisir Kalimantan mulai merasakan penurunan curah hujan secara drastis sejak bulan April.
Puncak kekeringan diprediksi melanda secara serentak pada bulan Agustus dengan cakupan melampaui enam puluh persen wilayah nusantara. Musim kemarau kali ini diproyeksikan bersifat di bawah normal atau jauh lebih gersang dibandingkan rekam jejak tahun sebelumnya.
Langkah Mitigasi Bencana
Pemerintah pusat dan daerah didesak untuk segera mengambil langkah antisipasi guna meminimalkan pukulan telak pada sektor ketahanan pangan. Para pahlawan pangan disarankan segera menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih benih unggul yang tangguh menahan suhu panas ekstrem.
“Durasi musim kemarau diprediksi lebih panjang dari normalnya,” kata Faisal dalam keterangan persnya, Kamis (5/3/2026).
Tindakan pencegahan juga harus menyentuh perbaikan fasilitas penyimpanan air bersih dan pengawasan ketat terhadap ancaman kebakaran hutan. Faisal menegaskan peringatan perubahan iklim ini wajib ditanggapi dengan aksi nyata agar penderitaan rakyat akibat krisis air dapat dihindari.
“Demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” ujarnya.





